Beranda - Pendampingan Program dan Kegiatan Utama Kementan, Melaksanakan Bimtek Teknologi BPRL di Kabupaten Ciamis
Penyuluhan

Pendampingan Program dan Kegiatan Utama Kementan, Melaksanakan Bimtek Teknologi BPRL di Kabupaten Ciamis

Budidaya Padi Ramah Lingkungan (BPRL) merupakan pendekatan teknologi budidaya padi guna mengoptimalkan produksi dengan tidak mengganggu kelestarian lingkungan. Guna memperkenalkan teknologi BPRL, BPTP bersama petugas terkait di daerah melakukan
Bimbingan Teknis (Bimtek) di beberapa kabupaten diantaranya di Kabupaten Ciamis yang dilaksanakan di Desa Puloerang, Kecamatan Lakbok. Bimtek tersebut diikuti oleh sekitar 60 orang petani peserta yg dibagi menjadi dua sesi pertemuan.
Pelaksanaan bimtek selain dihadiri oleh petani juga diikuti oleh UPTD Pertanian Kecamatan Lakbok, Koordinator Penyuluh BPP Lakbok, Kepala Desa Puloerang dan para PPL BPP Lakbok.

Kegiatan bimtek oleh BPTP di awali dengan pengisian kuesioner pre test terkait dengan materi teknologi yang akan disampaikan. Hasil pre test diketahui bahwa rata-rata petani belum mengetahui bioproduk (agrimeth, bio agrodeco, bioprotektor) dan cara penggunaannya.

Kegiatan Bimtek dibuka oleh Kepala UPTD Pertanian Kecamatan Lakbok Cucu Titin Kusmiati, SP. Dalam sambutannya, Kepala UPTD menekankan agar para petani menyimak dengan baik apa yg akan di paparkan oleh narasumber dari BPTP Jawa Barat, karena akan sangat bermanfaat untuk budidaya padi yg lebih baik lagi, dan ini sangat cocok dengan kebutuhan kita di Desa Puloerang yang mayoritas nya adalah petani.

Kesempatan berikutnya, kegiatan dilanjutkan dengan penggalian teknologi existing petani tentang budidaya padi yang dipandu oleh Dr. Darojat Prawiranegara. Budidaya padi yang biasa dilakukan oleh petani umumnya menggunakan Varietas Mawar, Inpari 42, Mekongga, Ciherang dan Maos, tanam menggunakan caplak, dengan jarak tanam tegel 27 x 27 dan 30 x 30 cm (legowo belum pernah dilakukan), umur benih 20-30 hari, persemaian tidak menggunakan pupuk organik, belum mengenal bio produk, penggunaan pupuk Urea 140 kg/ha, NPK phonska 280 kg/ha, belum mengenal BWD, hama yg biasa menyerang: wereng, penggerek, dan keong, jerami belum termanfaatkan secara baik, masih banyak yang di bakar.

Kegiatan utama Bimtek berupa pemaparan teknologi VUB dan BPRL disampaikan oleh Dr. Yanto Surdianto disampaikan beberapa jenis Varietas Unggul Baru (VUB) hasil Badan Litbang Pertanian dan pemaparan Budidaya Padi dengan teknologi BPRL dengan pengunaan bioproduk. Khusus materi bioproduk selain secara teori, materi tersebut juga disampaikan melalui prakrek penggunaan bioproduk (Agrimeth, Bio Agrodeco dan BioProtektor). Dalam penggunaan pupuk yang baik dan tepat, petani harus mengetahui kegunaan pupuk dan fase/tahapan pertumbuhan tanaman sehingga tidak salah aplikasinya.
Selanjutnya, pada sesi terakhir dilakukan diskusi yang dipandu oleh Koordinator Penyuluh Lakbok Dani Yusup, A.Md. Ada beberapa pertanyaan menarik yang di tujukan pada narasumber, seperti: apakah pupuk organik cair bisa dicampur dengan pupuk kimia, apakah jerami yg sudah terserang hama wereng masih bisa di gunakan untuk pupuk atau harus di eradikasi, keadaan di lapangan sering bibit tua karena traktornya giliran. Dr, Yanto menjelaskan bahwa pupuk organik cair sebaiknya jangan di campur dengan pupuk kimia, kalau serangan hama wereng nya melebihi ambang kendali sebaiknya di eradikasi, terkait pergiliran penggunaan traktor, harus di musyawarahkan dalam forum khusus dengan yg berkepentingan dan pengambil kebijakan.
Pertanyaan selanjutnya tentang legowo, bagus mana legowo 2 yang di disipi dan tidak. di jawab bahwa sebaiknya legowo di sisipi namun kerapatan nya harus menyesuaikan kesuburan tanah dan jenis varietas yg digunakan.

Kegiatan di akhiri dengan pengisian kuesioner post test. Berdasarkan hasil post tes, diketahui bahwa secara umum petani peserta Bimtek telah mengetahui dan faham terhadap materi yang disampaikan dalam acara Bimtek.

Apakah anda puas dengan pelayanan kami ?
Apakah anda puas dengan pelayanan kami ?
× Helpdesk